GERAKAN LITERASI SEKOLAH DI SEKOLAH LUAR BIASA

Diposkan Oleh Yuswan

Dalam Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) 2011, Indonesia menduduki peringkat ke-45 dari 48 negara.  Sementara itu, uji literasi membaca dalam Programme for International Student Assessment (PISA) 2009 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-57  dan pada  PISA 2012  peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-64 dari  65 negara.  Simpulan atas data PIRLS dan PISA tersebut, khususnya dalam keterampilan memahami bacaan, menunjukkan bahwa kompetensi peserta didik Indonesia tergolong rendah.

Padahal keterampilan membaca berperan penting dalam kehidupan kita karena
pengetahuan diperoleh melalui membaca. Oleh karena itu keterampilan membaca, khusus di jajaran Pendidikan Khusus  bila kondisinya memungkinkan sangat bijak  dengan kata “perlu dikuasai peserta didik dengan baik sejak dini”.

Mengapa demikian ?

Ya karena SLB di Indonesia kondisi saat ini (keterbatasan layanan) sebagai lembaga pendidikan formal bertanggungjawab atas layanan pendididkan  bagi anak Tunagrahita Ringan (Educable/Mampu didik) di SLB bagian C  dan  juga layanan bagi anak Tunagrahita Sedang ( Un Educable/tidak mampu didik, tetapi  hanya  Trainable/ Mampu latih) yakni di SLB bagian C1.

Sebenarnya bila kita ingin memberikan layanan bagi ABK yang tergolong C1 sesuai kondisi dan kebutuhan mereka (bukan keinginan kita) idealnya  layanan diberikan melalui Panti bukan sekolah seperti SLB.  Ini hanya idealnya lho…

Gerakan literasi di SLB bertujuan untuk menciptakan iklim literasi SLB, yang  meliputi:

  1. lingkungan fisik sekolah (ketersediaan fasilitas, sarana prasarana  literasi);
  2. lingkungan sosial dan afektif (dukungan dan partisipasi aktif semua  warga sekolah) dalam melaksanakan kegiatan literasi SLB, dan
  3. lingkungan akademik (adanya program literasi yang nyata dan bisa dilaksanakan oleh seluruh warga sekolah).

GLS memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah “kegiatan 15 menit membaca buku  nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai”.

Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik.

Bagaimana implementasinya di SLB ?

Langkah awal adalah guru memahami panduan  GLS-nya terlebih dahulu baru melangkah sehingga bisa terhindar dari ikatan ” MENURUTKU”  tetapi melangkah sesuai panduan  yang ada.

Langkah ini penting karena wujud kegiatan  literasi di masing-masing jenjang (SDLB,  SMPLB dan SMALB) dan   masing-masing  jenis ketunaan menurut panduannya itu berbeda-beda. Mari kita hindari ajakan hati “menurutku” tetapi mari tempatkan diri kita memberikan layanan kegiatan literasi sesuai  panduan yang ada.

Khusus bagi anda yang ingin memahami dan ingin  mendownload panduan GLS di SLB  silakan KLIK   AKU GLS DI SLB

Iklan