GURU PENDIDIKAN KHUSUS TIDAK HARUS MENGAJAR 24 JAM PELAJARAN SE-MINGGU

Oleh Yuswan

UU NO 13 TH 2003 tentang Tenaga kerja pasal 77  secara prinsip mengatur 40 (empat puluh) jam  seminggu  beban kerja seorang tenaga kerja selaku pegawai.  UU No: 14 Tahun  2005 menempatkan guru sebagai  pendidik profesional oleh karena itu dia  dalam kategori seorang pegawai.

Permendikbud No 15 tahun 2018 mewajibkan seorang guru  melaksanakan tugas  selama 40 (empat puluh) jam dalam 1 (satu) minggu  yang terdiri atas 37,5 (tiga puluh tujuh koma lima) jam kerja efektif dan 2,5 (dua koma lima) jam istirahat.

Pelaksanaan beban kerja selama 37,5 (tiga puluh tujuh koma lima) jam kerja efektif  bagi guru mencakup kegiatan pokok yang meliputi :

  1. merencanakan pembelajaran atau pembimbingan;
  2. melaksanakan pembelajaran atau pembimbingan;
  3. menilai hasil pembelajaran atau pembimbingan;
  4. membimbing dan melatih peserta didik; dan
  5. melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegiatan pokok sesuai dengan Beban Kerja Guru.

Akan tetapi perlu dipahami bahwa berdasar  pasal  13 ayat (1) Pemenuhan paling sedikit 24 (dua puluh empat) jam Tatap Muka per minggu dalam pelaksanaan pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) DAPAT DIKECUALIKAN  bagi:
a. Guru tidak dapat memenuhi ketentuan minimal 24 (dua puluh empat) jam Tatap Muka per minggu, berdasarkan struktur kurikulum;
b. Guru pendidikan khusus;
c. Guru pendidikan layanan khusus; dan
d. Guru pada Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN).

Guna memahami apa yang harus dikerjakan silakan buka   AKU PERMENDIKBUD NOMOR 15 TAHUN 2018

 

Sumber Gambar  : https://infonawacita.com/proses-belajar-mengajar-di-kelas-guru-dan-murid-tertekan-ini-kata-psikolog/