IGPKhI SEBAGAI PENGEMBANG PROFESI GURU PENDIDIKAN KHUSUS

gambar sedang mengajar

Oleh Yuswan

Profesionalitas guru Pendidikan Khusus Indonesia (SLB) adalah kunci kesejahteraan guru SLB. Jadi harus ada satu titik konsep yang harus kita pahami bahwa “Bila  kita (IGPKhI) ingin memperjuangkan kesejahteraan  anggotanya, maka harus mampu menciptakan  kesepahaman adanya titik minimal tingkat profesionalitas baku bagi seorang guru SLB sebagai SPM (standar profesi minimal)”.

Bagi anggota yang telah mampu memiliki kemampuan setara dengan SPM kita bantu memperjuangkan haknya. Sementara bagi yang belum mampu memiliki tingkat profesionalitas setara dengan SPM,  kita bantu mereka memahami dirinya dan kita bimbing dalam pengembangan profesi menuju SPM yang kita sepakati.

Dengan demikian keberadaan IGPKhI benar-benar  independen karena  menyiapkan kemampuan  anggotanya sesuai tuntutan profesi yang diminta penyelenggara pendidikan (Pemerintah/Yayasan) selaku pengguna  dan baru memperjuangkan apa yang menjadi hak atas profesi anggotanya.

IGPKhI harus sadar,…  diterima  atau tidak secara perlahan harus mampu menempatkan guru SLB atau anggotanya sebagai barang dagangan yang ditawarkan kepada penyelenggara pendidikan (Pemerintah/Yayasan) sebagai pengguna. Jadi harus mau menyiapkan guru SLB memiliki tingkat SPM sesuai permintaan pengguna baru membantu anggota mendapatkan hak-haknya sebagai imbalan.

Hal ini sangat penting untuk menghindari kesan ASAL  berjuang karena bila ini terjadi memperjuangkan anggota yang belum memenuhi SPM sama artinya IGPKhI menggali kubur untuk dirinya sendiri.

Guna membantu IGPKhI menempatkan diri sebagai “Pengembang” profesi guru Pendidikan Khusus atau SLB berikut informasi sederhana yang mungkin berguna dalam perencanaan. Secara garis besarnya, kegiatan pengembangan profesi guru dapat dibagi ke dalam tiga jenis, yaitu: (1) pengembangan intensif (intensive development), (2) pengembangan kooperatif (cooperative development), dan (3) pengembangan mandiri (self directed development) (Glatthorm, 1991).

  1. Pengembangan intensif (intensive development)adalah bentuk pengembangan guru oleh pimpinan (pembina) secara intensif berdasarkan kebutuhan guru. Teknik pengembangan yang digunakan antara lain melalui pelatihan, penataran, kursus, loka karya, dan sejenisnya.
  2. Pengembangan kooperatif (cooperative developmentadalah suatu bentuk pengembangan guru melalui kerja sama teman sejawat dalam suatu tim secara sistematis. Teknik pengembangan yang digunakan bisa melalui KKG atau MGMP/MGBK baik Online atau langsung. Teknik ini disebut juga dengan istilah peer supervision atau collaborative supervision.
  3. Pengembangan mandiri (self directed developmentadalah bentuk pengembangan yang dilakukan melalui pengembangan diri sendiri.  Guru berusaha untuk merencanakan kegiatan, melaksanakan kegiatan, dan menganalisis balikan untuk pengembangan diri sendiri. Bentuk ini memberikan otonomi secara luas kepada guru. Misalnya  melalui evaluasi diri (self evaluation/self supervision)

Idealnya,  setiap guru dapat melibatkan diri atau dilibatkan dalam  salah satu  kegiatan pengembangan profesi di atas. Jika seorang guru tidak satupun berusaha melibatkan diri (dilibatkan) dalam salah satu dari ketiga jenis  kegiatan pengembangan profesi tersebut, maka hampir bisa dipastikan dia akan terpuruk secara profesi karena tak mampu mencapai SPM kita.

Sumber bacaan : https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2014/10/15/3-jenis-kegiatan-pengembangan-profesi-guru/