OPTIMALISAI IMAJINASI ANAK AUTIS MELALUI PENGUATAN PERILAKU STEREOTIP POSITIFNYA

Oleh Yuswan

Terkadang orang tua khawatir karena anaknya sering berbicara sendiri disela-sela melakukan aktivitas. Jika terjadi pada saat anak menginjak usia 3-4 tahun hal tersebut adalah hal yang wajar. Hanya orang tua perlu memperhatikan jika memiliki teman khayalan/IBF (Imaginary Best Friend) tersebut berlanjut hingga usia lebih dari 3-4 tahun bisa jadi mengalami gejala awal autis.

Laura Davis dan Janis Keyser dalam buku Becoming the Parent You Want to Be: A Sourcebook of Strategies for the First Five Years mengatakan, teman khayalan biasa dialami oleh anak usia 3-6 tahun. Ingat….Jangan membiarkan tetapi alihkan perhatian anak dari imajinasinya dengan cara melakukan aktivitas-aktivitas positif, misalnya dengan segera mengajak anak berbicara dan bermain ketika asyik berimajinasi. Anak autis cenderung memiliki kemampuan berimajinasi yang tinggi seolah-olah memiliki dunia sendiri atau teman imajiner.
Ada beberapa tips mengelola imajinasi tinggi dan teman khayalan pada anak autis menuju terbentuknya sebuah terapi, diantaranya sebagai berikut:

  1. Tidak mehancurkan khayalannya, tetapi berusaha memperingatkan kalau teman khayalan sang anak adalah tidak nyata.
  2. Sesekali ingatkan dengan teguran “Senangnya pura-pura bermain dengan Ani”. Lambat laun akan sadar bahwa teman khayalnya ternyata tidak nyata.
  3. Tempatkanlah posisi teman khayalan sebagai pihak yang positif untuk mengekpresikan diri dan terpancing daya kreativitas dan rasa keingintahuannya.
  4. Hindari anak autis terlalu larut dalam khayalannya biar tidak menjadi lebih tertutup dan tidak berinteraksi sosial dengan orang lain.

Perilaku sebagai keadaan jiwa untuk berpendapat, berfikir, bersikap, dan lain sebagainya yang merupakan refleksi dari berbagai macam aspek, baik fisik maupun non fisik. Sebagai suatu reaksi psikis baik dalam bentuk pasif (tanpa tindakan nyata atau konkrit), dan dalam bentuk aktif (dengan tindakan konkrit), Proses pembentukannya dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri, antara lain persepsi: motivasi dan emosi maupun belajar. Faktor emosi inilah yang kita arahkan. Barelson (1964) mengatakan bahwa belajar adalah suatu perubahan perilaku yang dihasilkan dari perilaku terdahulu.

Perilaku diekspresikan melalui perkataan dan perbuatan dan semuanya itu dapat kita lihat, rasakan, dan kita dengar baik dari diri sendiri atau orang lain. Banyak perilaku Autisme yang berbeda dari perilaku normal, disatu sisi ada perilaku yang berlebihan, disisi lain adalah penatalaksanaan anak dengan gangguan Autisme secara terstrukur dan berkesinambungan. Perilaku : Aktivitas, perilaku dan interesnya sangat terbatas, diulang-ulang dan stereotipik.
Guna optimalisasi imajenasi anak autis salah satunya dengan terapi perilaku berupa ABA (Applied Behaviour Analysis) yang dikembangkan oleh Dr. Ivar Lovaas dan dilaksanakan dengan cara DDT (Discrete Trial Training). Terapi prilaku didasarkan atas proses belajar dan bertujuan mengubah prilaku yang tidak diinginkan menjadi prilaku yang diinginkan.

Demi efektifitas dalam proses optimalisasi harus dibangun respon positif untuk mewarnai emosi anak, sebagaimana ditulis Bahon-Cohen et al (dalam Castelli, 2005) yang menemukan kelemahan yang spesifik pada pengenalan emosi penyandang autis terhadap ekspresi terkejut (belief-based expression) dibanding emosi senang dan sedih (reality-based expression). Konsepnya emosi merupakan respon individu terhadap benda, orang, dan situasi. Respon ini dapat menyenangkan atau positif tetapi dapat juga tidak menyenangkan atau negatif (Ekman, 1999). Selain itu minat dan keingintahuan anak autis terhadap benda sangat besar karena benda-benda lebih dapat diduga. Biasanya anak autis lebih banyak belajar dengan benda-benda daripada orang (Peeters, 2004).

 

Respon anak autis terhadap benda-benda terlihat dari keinginan untuk mengambil dan membawa benda tersebut kemana mereka pergi. Kondisi inilah yang harus kita jadikan modal dalam optimalisai imajenasi kepadanya. Tempatkanlah posisi teman khayalan sebagai pihak yang positif untuk mengekpresikan diri dan terpancing daya kreativitas dan rasa keingintahuannya.

Bangunlah Emosi positif dengan mengetahui rutinitas aktivifitas yang membuat anak senang. Bimbingkah hingga terbentuk  sebuah rutinitas stereotip positip  karena rutinitas merupakan cara anak untuk menghindari dan mengontrol rasa takut atau suatu cara untuk lari dari situasi yang membingungkan (Azwandi, 2005).

Jadi perilaku steriotip yang dilakukan anak-anak autis adalah suatu cara mereka untuk mengendalikan emosi dan dapat dijadikan sebuah terapi. Sebagai acuan dasar bahwa tujuan dari terapi Autisme adalah mengurangi masalah prilaku dan meningkatkan kemapuan belajar serta meningkatkan perkembangan anak agar sesuai atau paling sedikit mendekati anak seusianya. Dengan demikian optimalisai imajinasi anak autis dapat dilakukan dengan pemanfaatan perilaku stereotip positipnya. (Yuswan–Cilacap)

Sumber :

  1. Joko Yuwono ,M.Pd, 2012, Memahami Anak Autistik, Alfabeta, Bandung.
  2. http://autism.care.ugm.ac.id/?modul=baca&dir=harian&artikel=A271FFC1DBA2
  3. http://www.autismtreatmentindia.com, Dr. Oswal’s Breakthrough Autism Treatment
  4. http://familyparenting.perempuan.com parenting/anak-autis-lebih-memiliki-imajinasi-tinggi/
  5. http://anaqita.blogspot.com/2010/03/menumbuhkan-imajinasi-anak-dengan.html
  6. https://www.facebook.com/ntakarini/posts/4497252448710

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s